SOSIALISASI MITIGASI BENCANA

SOSIALISASI MITIGASI BENCANA

Bencana alam seperti banjir, tanah longsor, maupun gempa bumi sering kali terjadi tanpa peringatan dini yang cukup. Dalam situasi darurat, detik-detik awal sangat menentukan keselamatan keluarga. Tas Siaga Bencana (TSB) atau Emergency Go-Bag adalah tas darurat yang disiapkan jauh sebelum bencana terjadi, berisi kebutuhan dasar hidup untuk bertahan selama minimal 3 x 24 jam (72 jam) dalam kondisi darurat.

Pada Selasa, 18 Agustus 2026 bertempat di Balai Desa Bejalen pukul 20.00 WIB dilaksanakan kegiatan Penyuluhan oleh Mahasiswa KKN Universitas PGRI  Semarang (UPGRIS) kepada warga Desa Bejalen dengan topik Kesiapsiagaan Bencana Tas Siaga Bencana. 

Pada kesempatan ini disampaikan oleh Lina selaku narasumber dari Mahasiswa KKN UPGRIS bahwa untuk meminimalisir dampak negatif maupun korban akibat peristiwa bencana maka perlu dipersiapkan Tas Siaga Bencana (TSB) hal ini juga merupakan langkah awal perlindungan mandiri paling efektif sebelum bantuan medis atau logistik pemerintah tiba di lokasi pengungsian.

Kondisi geografis Desa Bejalen yang berdekatan langsung dengan kawasan cekungan Rawa Pening membuat wilayah ini memiliki risiko genangan air dan banjir luapan saat musim hujan ekstrem.

Tas Siaga Bencana (TSB) merupakan ransel yang diisi kebutuhan dasar darurat dan siap diambil seketika saat evakuasi terjadi secara mendadak, tas ini di desain untuk memenuhi kebutuhan bertahan hidup seluruh anggota keluarga selama 3 hari pertama pascabencana.TSB hendaknya menggunakan bahan yang kuat, tahan air (waterproof), dan diletakkan di tempat yang mudah dijangkau (seperti dekat pintu keluar utama rumah).

5 (lima) pilar kebutuhan saat mengahadapi bencana dan perlu disiapkan dalam Tas Siaga Bencana (TSB), antara lain:

  1. Dokumen vital, contohnya Dokumen dan surat berharga, uang tunai;
  2. Pangan dan air;
  3. P3K dan obat-obatan pribadi;
  4. Alat komunikasi dan penerangan; dan
  5. Pakaian dan perlindungan diri.

PROTOKOL MITIGASI DAN TANGGAP DARURAT BANJIR (BPBD)

Fase 1: Pra-Bencana (Kesiapsiagaan Sebelum Kejadian) Pemantauan Peringatan Dini Pembersihan Drainase Pengecekan TSB Berkala Fase 2: Saat Terjadi Bencana (Tanggap Darurat) Pengamanan Kelistrikan & Gas Evakuasi Mandiri Cepat Keselamatan Fisik Fase 3: Pasca-Bencana (Pemulihan) Sterilisasi dan Sanitasi Pemeriksaan Listrik.

Kesiapsiagaan keluarga melalui penyediaan Tas Siaga Bencana (TSB) menjadi faktor penentu keselamatan yang sangat vital. Sebagai pengelola rumah tangga, ibu-ibu PKK memegang peranan kunci untuk menyiapkan satu TSB mandiri yang diletakkan di area mudah dijangkau dekat pintu keluar, berisi kebutuhan dasar untuk bertahan hidup selama 3×24 jam—mulai dari dokumen penting berbungkus plastik tahan air, uang tunai, air minum, makanan siap saji, obat-obatan pribadi/P3K, hingga senter, peluit, dan alat sanitasi—serta senantiasa menerapkan protokol mitigasi BPBD Jawa Tengah pada fase pra-bencana, saat evakuasi, hingga pasca-bencana demi mewujudkan keluarga dan desa yang tangguh bencana.