Budidaya Jamur Tiram Jadi Salah Satu Potensi Ekonomi Desa Wisata Bejalen

Budidaya Jamur Tiram Jadi Salah Satu Potensi Ekonomi Desa Wisata Bejalen

BEJALEN, AMBARAWA – Budidaya jamur tiram menjadi salah satu potensi usaha yang berkembang di Desa Wisata Bejalen, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Selain menghasilkan produk pangan, usaha tersebut juga memberikan kontribusi terhadap perekonomian keluarga dan menjadi bagian dari potensi UMKM yang ada di Desa Bejalen.Potensi tersebut menjadi salah satu hal yang digali oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) melalui kegiatan wawancara bersama pelaku usaha budidaya jamur tiram, Bapak Hermawan dan Ibu Retno Ari Purwaningsih, pada 5 Agustus 2026.

Usaha budidaya jamur tiram tersebut telah dirintis sejak tahun 2021. Dalam perkembangannya, usaha ini mampu menghasilkan laba bersih sekitar Rp5 juta per bulan. Keberlangsungan usaha didukung oleh konsistensi dalam menjaga kualitas hasil panen serta jaringan pemasaran yang telah terbentuk.

Hasil panen jamur tiram dipasarkan melalui pedagang sayur yang mengambil langsung hasil panen dari lokasi budidaya untuk kemudian dipasarkan di Pasar Ambarawa. Selain itu, terdapat pula pelanggan tetap dari pelaku usaha makanan, salah satunya penjual mie ayam jamur.

Adanya jaringan pemasaran tersebut membantu memastikan hasil panen dapat terserap dengan baik. Jamur yang memiliki kadar air lebih tinggi atau tidak memenuhi standar kualitas pasar juga tetap dimanfaatkan sebagai bahan baku olahan makanan.

“Kami tidak kesulitan memasarkan hasil panen karena sudah ada pedagang sayur yang mengambil langsung ke kumbung, ditambah pelanggan tetap penjual mi ayam jamur. Jadi setiap hasil panen sudah memiliki tujuan pemasaran,” ungkap Bapak Hermawan.

Selain memperhatikan pemasaran, pengelolaan usaha juga dilakukan dengan memanfaatkan hasil budidaya secara optimal. Jamur yang memiliki kualitas kurang baik dimanfaatkan sebagai pakan ikan, sedangkan baglog bekas budidaya diolah kembali menjadi pupuk kompos.

Ibu Retno Ari Purwaningsih menjelaskan bahwa pemanfaatan kembali hasil budidaya dilakukan untuk mengurangi limbah sekaligus memberikan nilai guna tambahan.

“Kami berusaha memanfaatkan semua hasil budidaya. Baglog bekas kami jadikan kompos, sedangkan jamur yang kualitasnya kurang baik dimanfaatkan sebagai pakan ikan. Dengan begitu, limbah tetap memiliki nilai manfaat dan membantu mengurangi pemborosan,

” tutur Ibu Retno Ari Purwaningsih.Melalui kegiatan wawancara tersebut, mahasiswa KKN UPGRIS memperoleh gambaran mengenai pengelolaan UMKM berbasis potensi lokal, mulai dari proses produksi, pemasaran, pengelolaan pelanggan, hingga pemanfaatan kembali hasil dan limbah budidaya.

Budidaya jamur tiram di Desa Wisata Bejalen menunjukkan bahwa pemanfaatan potensi lokal dapat dikembangkan menjadi kegiatan usaha yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Keberadaan usaha tersebut juga menjadi bagian dari potensi UMKM yang dapat terus dikembangkan untuk mendukung perekonomian desa.Kegiatan penggalian potensi UMKM yang dilakukan mahasiswa KKN UPGRIS diharapkan dapat membantu mengenalkan berbagai potensi usaha yang dimiliki Desa Wisata Bejalen serta mendorong masyarakat untuk terus mengembangkan usaha berbasis sumber daya lokal.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *